Berbelanja dengan Gembira

Arsip Penulis: RM

  • Diskursus dan Metode ala Descartes

    Pada waktunya, dan jika benar problem filosofis pada setiap disiplin membuka pintu perdebatan soal apa yang disebut Meillassoux dengan ancestrality , setiap orang akan dengan bangga memproklamirkan dirinya ‘bodoh’. Ilmu itu, kata Meillassoux, “not reinstate any form of absolutely necessary entity”. Ilmu tak lagi jadi sesuatu yang relevan untuk dijadikan pakem dalam memahami realitas karena …

    Selengkapnya  →
  • Anti-Kapitalisme yang Mendarah Daging?

    Sejak Marx mengumandangkan surplus value sebagai roh dalam “mode produksi kapitalis”, setiap model dan rangka analisis yang terdapat dalam disiplin ilmu sosio-humaniora  seperti terarah pada satu pokok masalah: kapitalisme. Secanggih dan serumit apapun analisisnya, tak ada hal lain yang bisa dituding kecuali kapitalisme. Padahal kita tahu baik Marx atau pun Engels tak pernah menyebutnya demikian. …

    Selengkapnya  →
  • Saya membayangkan Lefebvre berseru: Itu Marxisme, Bung!

    Saya menemukan kebebasan di dalam kemiskinan, bukan dalam karya-karya Karl Marx —Albert Camus; Pleiade II,  Essais Benarkah kita bisa belajar dari siapapun, di mana-mana, dan kapan saja? Di sisi lain ada semacam anggapan yang seolah dapat membuat diri mendadak bengah ketika menulis disertai beberapa kutipan dari filsuf besar, sastrawan terkemuka, sampai ilmuwan ‘canggih’. Saya kenal …

    Selengkapnya  →
  • Sosiologi Posmodernitas: Sosiologi Posyandu

    Sosiologi adalah anak kandung dari Renaisans. Giddens mencatat, sejak Giambatista Vico memaklumatkan The New Science di abad XVIII, ketika filsafat sudah cukup mapan untuk memisahkan diri dari teologi sehingga mampu berdiri tegak di atas suatu paham heliosentris a la Galilleo, sosiologi sudah berupa embrio. Giddens meyakini, epistemologi ilmu sosial menemukan pondasinya persis ketika gong pemberontakan …

    Selengkapnya  →
  • Kebahagiaan dan Tanda Tanya Seputar Ketidaktahuan

    Ada satu tema yang cukup hangat dibicarakan dalam diskursus ilmu pengetahuan pada dua dekade terakhir sebelum memasuki abad 21: ignorance. Dalam Oxford English Dictionary dijelaskan bahwa ignorance berarti “kurangnya pengetahuan atau informasi”, yang secara jernih dapat kita artikan sebagai ‘ketidaktahuan’. Jauh sebelum orang-orang mengenal istilah ‘hukum yuridis’, setiap pembicaraan mengenai ketidaktahuan ini selalu dipertautkan dengan …

    Selengkapnya  →
  • Angela Mc Robbie: Postmodernisme dan Budaya Pop

    Leibniz percaya, sebuah pleidoi akan selalu berakhir ‘terbalik’. Tuduhan dan pembelaan adalah dua hal yang sama sebagaimana kebenaran dan subjektivitas itu serupa . Saya pikir, itulah yang sedang diupayakan Angela Mc Robbie dalam buku ini, sebuah kesangsian terhadap segala bentuk kritik yang ditujukan pada feminisme. Angela menjelaskan, feminisme bukan saja isu sensitif dalam wilayah kajian …

    Selengkapnya  →
  • Filsafat Sosial: Kebutaan Ilmuwan Kita

    Anda tahu apa yang paling memuakkan dari seorang ilmuwan atau intelektual atau teoritisi atau kritikus atau praktisi atau ideolog (pilih saja sesuai selera anda), adalah sikap sok tahu mengenai apa yang baik bagi masyarakat, yang berarti juga bagi hidup setiap orang, dan bagaimana yang baik itu dapat diraih. Di ilmu sosial, sejak Comte mengajukan suatu …

    Selengkapnya  →
  • Teori Marxis dan Berbagai Ragam Teori Neo-Marxian

    Karl Marx adalah satu-satunya pemikir yang membuat pendekatan ilmu sosial tak cuma lebih tampak masuk akal tapi sekaligus menjadi berarti. Marx tidak cuma berhasil membangun pondasi dasar paradigma ilmu sosial, distingsi antara aktor dan struktur atau antara fakta dan nilai (value), yang mengilhami perkembangan di setiap aliran dan perspektif di dalammnya, namun juga menstimulasikan suatu …

    Selengkapnya  →
  • Sakramen Claude Lévi-Strauss: Strukturalisme dan Teori Sosiologi

    Pada tahun 1960-an di Prancis, waktu-waktu di mana eksistensialisme dianggap tak lagi menarik dan absurditas mulai hilang daya magisnya, dengan cara yang mengejutkan strukturalisme jadi topik yang bukan saja asyik untuk dibicarakan namun juga simbol prestise. Tersebar sebuah kias yang agaknya juga menggambarkan sebuah satire: tidak mungkin menjadi seorang Strukturalis dengan cara-cara yang sama yang …

    Selengkapnya  →
  • Teori Kritis: Marxisme yang di-Hegel-kan

    …sekarang kita menyusun alam dengan pendapat-pendapat, tetapi kita menjebaknya dalam kepastian: tetapi jika kita akan memandunya dalam penemuan, kita seharusnya memerintahkannya dengan tindakan — Horkheimer & Adorno Dari barisan pemikir-pemikir Mazhab Frankfurt, barangkali cuma Habermas yang menolak posisi subjek ontologis milik Hegel. Horkheimer, sebagaimana yang dicatat Martin Jay, merupakan pemikir “yang berpengaruh besar bagi semua …

    Selengkapnya  →
  • Martin Suryajaya dan Petualangan Mencari Marxisme

    Deleuze dan Guattari, dalam What is Philosophy, menyatakan bahwa masalah filsafat bukan lagi soal what is melainkan how to. Mereka berasumsi, stagnasi pada tubuh filsafat disebabkan oleh sifat yang melekat dalam filsafat itu sendiri, yakni refleksif. Untuk mengatasi hal ini satu-satunya jalan adalah “retro-kreatif”; tafsir kritis atas sejarah; seni membentuk, menciptakan dan membuat konsep. Di …

    Selengkapnya  →
  • Emle Zola, Theresa, dan Anna Karenina

    Ada yang mengatakan, Anna Karenina merupakan kisah suram. Tolstoy sendiri meyakini, yang di awal diam-diam memendam perasaan “jijik” dengan sosok Karenina, seketika berubah menjadi sebentuk cinta yang aneh setelah karya itu berhasil dituliskan. Bagi saya, ada yang lebih suram ketimbang tokoh Karenina yang terlanjur melegenda itu. Ialah, Theresa. Sebuah cerita yang ditulis Emile Zola dengan …

    Selengkapnya  →
Memperbarui…
  • Tidak ada produk dalam keranjang.