Berbelanja dengan Gembira

Buku Merah : Cerita Tentang Epos Ramayana

Oleh: ,

Rp 60.000 Rp 54.000

Buku Merah merupakan sebuah novel, karena itu pula saya memasukinya sebagai novel. Namun, lambat laun saya memandangnya dengan kacamata yang berbeda. Buku Merah bukan novel. Mungkin lebih tepat jika disebut puisi panjang. Barangkali puisi-prosa, atau justru prosa-puisi? – Bernard Batubara

Buku Merah – Dengan setengah nyali aku pun tersesat ke hutan. Hutan lambang, belantara rupa. Tangan Uma terulur ke arahku, aku tahu, dan kilatan dari leher dan bahunya menerangi hutanku sesekali. Ia membiarkan aku tergelincir ke lembah, namun seringkali pula ia menyurungku ke puncak. Ia seperti hendak menculikku–ataukah menyelamatkanku? Bayangan Uma melengkung memanjang seupa jembatan gaib. Dan aku beringsut menitinya, menghabiskannya. Supaya aku lekas sampai ke seberang. Entah seberang yang mana. Kulepas topeng merahku, supaya si Muka Sepuluh mengenali wajahku dan memanggil aku dengan nama yang diam-diam kuharapkan. Nama sang perempuan Ayodya.

“Pada awalnya saya mengira Buku Merah merupakan sebuah novel, karena itu pula saya memasukinya sebagai novel. Namun, lambat laun saya memandangnya dengan kacamata yang berbeda. Buku Merah bukan novel. Mungkin lebih tepat jika disebut puisi panjang. Barangkali puisi-prosa, atau justru prosa-puisi? Buku Merah akan lebih mudah dibaca jika pembaca memiliki pengetahuan yang cukup tentang epos Mahabharata. Bagi yang tidak, seperti saya, saya kira dapat mencoba menikmati Buku Merah sebagai puisi panjang. Catatan yang penuh dengan sayap, simbol, dan tanda-tanda.” – Bernard Batubara

Nirwan Dewanto (lahir 28 September 1961) adalah seorang penyair dan kritikus budaya Indonesia. Ia juga dikenal karena penggambaran Albertus Soegijapranata dalam Soegija biografi 2012.
Pada tahun 1991 Dewanto menjadi pembicara di Konferensi Kebudayaan Nasional. Dia kemudian menjadi terkenal karena komentar budayanya. Dewanto menjadi editor majalah Kalam pada peluncurannya pada bulan Februari 1994, bersama dengan penyair Goenawan Mohamad. Pada tahun 1996 Dewanto merilis koleksi esai berjudul Senjakala Kebudayaan. Dewanto memenangkan Khatulistiwa Award pada tahun 2008 untuk puisi antologi nya Jantung Ratu Lebah (Hati Ratu). Penulis cerita pendek Seno Gumira Ajidarma, seorang hakim di panel, menggambarkan antologi sebagai menunjukkan pencapaian besar.

Jenis Sampul

Jumlah Halaman

87

Penerbit

Penyunting

Tahun Terbit

ISBN

978-602-6092-403

Desain Sampul

Belum ada ulasan.

Jadilah yang pertama mengulas “Buku Merah : Cerita Tentang Epos Ramayana”

Memperbarui…
  • Tidak ada produk dalam keranjang.