Buku kumpulan naskah nonfiksi berbahasa Indonesia dari 18 penulis pilihan. Berisi sejumlah naskah reportase dengan beragam isu sosial. Buku ini hadir untuk memberikan contoh-contoh terbaik dalam kepenulisan jurnalisme naratif.

Narasi – Betapapun kami menamakan judul buku dengan #narasi—yang mengasosiasikan tulisan-tulisannya pernah terbit di ruang maya, sebagian dari laporan ini terbit perdana dalam publikasi cetak.

Chik Rini dari Aceh menulis tentang sekelumit kisah penculikan dan pembunuhan di masa konflik, diterbitkan oleh majalah Pantau. Begitupula liputan media oleh Coen Husain Pontoh, pemimpin redaksi jurnal Indoprogress, yang meneliti koran kuning ala Rakyat Merdeka di mana kini peran bahasa bombastisnya sudah tergantikan oleh media sosial. Ada pula narasi perjalanan Yusi Avianto Pareanom ke komunitas suku Indian-Amerika di Michigan, yang laporannya terbit di majalah Tempo. Nama lain adalah Puthut EA dan Zen RS, masing-masing tentang budi daya serta tradisi terkait tembakau dan pangan lokal, yang terbit di majalah National Geographic Indonesia.

Ada juga Bayu Maitra, editor Bacaan Malam—blog agregator naskah-naskah bertutur—mengisahkan seorang skizofrenia yang terbit di Reader’s Digest, majalah waralaba yang edisi Indonesia-nya berhenti terbit pada akhir tahun 2015. Anugerah Perkasa, wartawan Bisnis Indonesia, menulis tentang hubungan bisnis dan korupsi seorang pengusaha media yang aliran dananya merembes ke lembaga agama. Nugie, sapaan akrabnya, adalah sedikit wartawan di Jakarta yang rajin menyisipkan waktu dan menikmati upaya penulisan naratif di tengah tenggat harian medianya.

Sebagian lagi adalah narasi yang terbit di media daring dan blog pribadi.

Imam Shofwan, bekerja di Yayasan Pantau, meliput tentang kekerasan seksual dari dokumen kejahatan perang pendudukan Indonesia di Timor Leste—atas dukungan dana tahunan Southeast Asia Press Alliance (SEAPA) pada 2007, yang kemudian laporannya ini mendapatkan penghargaan dari sebuah lembaga di Paris. Budi Setiyono, redaktur Historia—situsweb sejarah yang dikemas secara populer, menulis ulasan buku diiringi wawancara dengan penulis plus pencarian data lain untuk melengkapi tema perbudakan seksual di masa Jepang.

Novelis Mahfud Ikhwan membuat catatan menyenangkan tentang klub bola lokal di daerahnya Lamongan, Jawa Timur, untuk Belakang Gawang, sebuah blog khusus sepakbola yang telah memiliki pengagum setia. Wartawan Rusdi Mathari mendatangi Sampang, Madura, pada awal tahun 2012 untuk menelusuri kekerasan terhadap komunitas Syiah di sana, kaya dengan latar belakang sosial dan etnografi, dimuat di blognya. Peneliti hak asasi manusia Andreas Harsono menulis profil seorang Tionghoa dalam lintasan sejarah politik Indonesia, semula ditulis untuk buku pernikahannya lantas dimuat ulang di blog pribadinya.

Penulis Andina Dwifatma, yang mengelola situs jurnalisme naratif PanaJournal, mengisahkan Maria Sumarsih, ibunda Wawan, yang tiada henti setiap Kamis sore di depan Istana menggugat negara untuk bertanggung jawab atas kejahatan orang hilang dan pelanggaran kemanusiaan lain. Saya sendiri menulis profil orang Papua di Merauke yang disiksa berkali-kali oleh tentara Indonesia dan lantas meninggal—terbit di Indoprogress.

Naskah lain datang dari Pindai: Jogi Sirait, Prima Sulistya Wardhani, dan Nody Arizona—masing-masing menulis penyingkiran komunitas Suku Anak Dalam di Jambi di tengah ekspansi ladang perkebunan sawit; konflik agraria antara petani dan militer di Kebumen, Jawa Tengah; dan elaborasi kritis atas kebijakan cukai hasil tembakau. Penulis Raka Ibrahim, dalam satu kesempatan saat Pindai membuka program hibah buku nonfiksi tahun lalu, mengirimkan draft bukunya—tetapi, karena sempitnya waktu, kami mengusulkan agar dia menulis lebih singkat. Hasilnya, narasi tentang riwayat skena musik independen di Jakarta tahun 90-an yang bertaut dengan konteks sejarah politik dan industri musik di Indonesia, sejak zaman Sukarno hingga era media sosial.

Semuanya ada 18 narasi, atau sekitar 80.000 kata. Untuk sekiranya bisa dipakai sebagai rekan belajar, masing-masing narasi diberi pengantar singkat dari penulisnya mengenai prosesnya meliput dan menulis naskah tersebut.

Judul #narasi yang kami pakai, dalam angan-angan kami yang lain, kelak dapat mendorong terbitan serupa yang mengusung genre ini, baik dalam buku utuh maupun prosa jurnalisme di ranah daring. Sejumlah contoh, gagasan, dan inisiatif untuk mengembangkan genre ini sudah dimudahkan oleh peran internet. Saya kira secara teknis ia menjadi lebih mudah pula.

Para wartawan maupun penulis nonfiksi, di tengah rutinitas harian dan mingguan mereka, bisa sewaktu-waktu terpanggil untuk mendalami perkakas dari genre jurnalisme naratif ini. Dan bila ia ditempatkan sebagaimana proses kreatif, bagaimanapun, itu tetaplah suatu panggilan menyenangkan.*

Berat0.7 kg
Dimensi13 x 20 cm
Jenis Sampul

Jumlah Halaman

466

Penyunting

Tahun Terbit

Penerbit

Belum ada ulasan.

Jadilah yang pertama mengulas “Narasi”

Anda mungkin juga suka…

Memperbarui…
  • Tidak ada produk dalam keranjang.