Berbelanja dengan Gembira

Sekolah Biasa Saja : Pendidikan Tanpa Formalitas

Oleh: ,

Rp 50.000 Rp 45.000

Buku Sekolah Biasa Saja merupakan catatan Toto Rahardjo yang didukung para sahabat dan fasilitator Sanggar Anak Alam (SALAM). Buku ini merupakan dokumentasi konsep dan praktik proses belajar di SALAM (Laboratorium Komunitas Belajar) yang mencakup, cara pandang, prinsip-prinsip dan sikap serta sebagian contoh praktik pendidikan yang dituangkan dengan lugas.

Stok 2

Sekolah Biasa Saja – merupakan catatan Toto Rahardjo. Penyusunannya juga didukung para sahabat dan fasilitator Sanggar Anak Alam (SALAM). Buku ini merupakan dokumentasi konsep dan praktik proses belajar di SALAM (Laboratorium Komunitas Belajar). Didalamnyamencakup cara pandang, prinsip-prinsip, dan sikap serta sebagian contoh praktik pendidikan yang dituangkan dengan lugas.

Toto Rahardjo sendiri adalah seorang pendidik yang autodidak. Dia menghabiskan masa mudanya sekitar 20 tahun lebih aktif sebagai fasilitator pendidikan kerakyatan (popular education) dan pengorganisasian rakyat. Dia aktif  terutama di Jawa Tengah, Yogyakarta, Nusa Tenggara Timur dan Papua; antara lain 1) mendirikan Sanggar Anak Alam(SALAM) di daerah pegunungan Banjarnegara, Jawa Tengah; dan 2) bersama alm. Romo Mangunwijaya di Kali Code, Yogyakarta dan menggagas berdirinya Yayasan Dinamika Edukasi Dasar (DED).

Pernah menjadi Ketua Dewan Pendidikan dan Pengembangan INSIST, Direktur REaD (Research Education and Dialogue), Direktur Yayasan Pendidikan Rakyat Indonesia (YPRI), pengarah program INVOLVEMENT (Indonesian Volunteers for Social Movement). Tahun 1998 terlibat sebagai pegiat awal berdirinya lembaga penerbitan INSISTPress, bersama Mansour Fakih, Roem Topatimasang, Anu Lounela, dan Saleh Abdullah. Pada 2002, Toto dan kawan kolegial lainnya di INSIST ikut menggagas berdirinya Akademi Kebudayaan Yogyakarta (AKY).

Kini, Toto bersama Sri Wahyaningsih aktif mengelola Sanggar Anak Alam (SALAM), di Nitiprayan, Yogyakarta

“Ketika pertama kali mengunjungi SALAM, saya tersentak karena tidak lebih dulu menyapa tembok, tetapi menyapa sawah, pohon, langit, air, dan senyum. Kemerdekaan dan keterbukaan ternyata bukan sekadar kata muluk di sini tetapi benar-benar mendapatkan wujud fisik dalam bangunan-bangunan sederhana yang terbuka di tengah-tengah sawah dan lalu-lalangnya kehidupan. Di sini pendidikan anak menjadi salah satu simpul dalam jaringan kehidupan komunitas: simpul yang teramat penting karena menjadi tempat belajar bagi anak-anak, bagi orangtua mereka, bagi orang-orang dewasa yang menjadi fasilitator dan menyelenggarakan administrasi, dan juga bagi orang seperti saya, pemerhati dan praktisi pendidikan dari berbagai penjuru.” Dr. Sylvia Tiwon, Guru besar di Universitas Berkeley.

“Membaca buku ini otomatis membawa pikiran saya melayang pada Sokola Rimba, di pedalaman hutan tadah hujan Jambi. Lama membacanya, karena helai demi helai saya resapi maknanya dan saya bayangkan bagaimana aplikasinya. Buku ini diperlukan oleh siapa saja yang pernah sekolah, agar bisa mengkoreksi daya nalar, karena sejatinya proses sekolah pada setiap manusia berlangsung sepanjang hidup, tinggal bagaimana proses belajar tersebut bisa bermakna positif bagi kehidupan kita dan sekitar kita, bukan untuk menjadi budak yang memenuhi industri semata.” Butet Manurung, pendiri Sokola Rimba

Berat0.3 kg
Tahun Terbit

Penerbit

Jenis Sampul

Desain Sampul

Belum ada ulasan.

Jadilah yang pertama mengulas “Sekolah Biasa Saja : Pendidikan Tanpa Formalitas”

Memperbarui…
  • Tidak ada produk dalam keranjang.