Berbelanja dengan Gembira

Telepon Genggam : Puisi-Puisi Keseharian Jokpin

Oleh: ,

Rp 50.000

Bangun tidur, ia langsung menghidupkan
telepon genggam: mudah-mudahan ada pesan.
Masih ngantuk. Masih ada kabut mimpi
di matanya. Masih temaram.
Sebenarnya apa perlunya pagi-pagi menyalakan
telepon genggam? Paling-paling cuma dapat
pesan ringan: “Bagaimana tidurmu semalam?
Sarungnya enak kan? Lupa sama saya ya?
Tadi saya nunggu lama di kuburan.”

Stok 3

Telepon Genggam / Joko Pinurbo

 

Puisi-puisi dalam buku ini dibentuk dengan sederhana. Menggunakan citraan benda dan kejadian sehari-hari tidak membuat puisi ini jauh dari kesan ‘puitik’. Joko Pinurbo sebagai seorang penyair mampu mengubah citraan sederhana seperti telpon genggam, daun, atau tikus, menjadi rangkaian kata yang syahdu. Memang, Joko Pinurbo adalah seorang maestro puisi yang tak pernah belebihan dalam memanfaatkan kata, diksi, dan rima.

Ibu Yang Tabah

Setiap subuh ibu itu memetik embun di daun-daun,

menampungnya dalam gelas,

dan menghidangkannya kepada anak-anaknya sebelum mereka berangkat sekolah.

Malam hari diam-diam ia memeras airmata,

menyimpannya dalam botol,

dan meminumkannya kepada anak-anaknya bila mereka sakit. 

 

Joko Pinurbo (jokpin) lahir 11 Mei 1962. Lulus dari Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Sanata Dharma Yogyakarta (1987). Kemudian mengajar di alma maternya. Sejak 1992 bekerja di Kelompok Gramedia. Gemar mengarang puisi sejak di Sekolah Menengah Atas.

Buku kumpulan puisi pertamanya, Celana (1999), memperoleh Hadiah Sastra Lontar 2001; buku puisi ini kemudian terbit dalam bahasa Inggris dengan judul Trouser Doll (2002).

Ia juga menerima Sih Award 2001 untuk puisi Celana 1-Celana 2-Celana 3. Buku puisinya Di Bawah Kibaran Sarung (2001) mendapat Penghargaan Sastra Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional 2002. Sebelumnya ia dinyatakan sebagai Tokoh Sastra Pilihan Tempo 2001. Tahun 2005 ia menerima Khatulistiwa Literary Award untuk antologi puisi Kekasihku (2004).

Buku puisinya yang lain: Pacar kecilku (2002), Telepon Genggam (2003), Pacar Senja (2005), Kepada Cium (2007), dan Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung (2007). Selain ke bahasa Inggris, sejumlah sajaknya diterjemahkan ke bahasa Jerman. Sering diundang baca puisi di berbagai forum sastra, antara lain Festival Sastra Winternachten di Belanda (2002). Oleh pianis dan komponis Ananda Sukarlan sejumlah sajaknya digubah menjadi komposisi musik.

Berat0.2 kg
Dimensi14 × 20 cm
ISBN

978-602-6651-14-3

Jenis Sampul

Penerbit

Jumlah Halaman

84

Tahun Terbit

Belum ada ulasan.

Jadilah yang pertama mengulas “Telepon Genggam : Puisi-Puisi Keseharian Jokpin”

Kategori: , , Oleh: ,
Memperbarui…
  • Tidak ada produk dalam keranjang.